Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Oleh: Tedi Kholiludin

Saya tidak bermaksud untuk mengaitkan Teologi Kemakmuran seperti yang termaktub dalam judul di atas dengan gerakan Karismatik dan Pentakostalisme, sebagai sopir dari teologi penderitaan dan teologi kemakmuran. Teologi kemakmuran yang akan digunakan dalam tulisan ini dimaknai dalam pengertian yang cukup luas, yakni sebuah upaya berteologi dengan menjadikan penderitaan dan kemiskinan sebagai ranah untuk berteologi yang kemudian berujung pada teologi kemakmuran.

Lanjut Baca »

Oleh: Tedi Kholiludin

Philipp Wogaman dalam “Christian Perspective of Politics”, memaparkan empat tipologi mengenai relasi antara state dan church.Pertama, Teokrasi, dimana Negara berada di bawah kontrol para pemimpin atau institusi agama untuk kepentingan agama. Kedua, pemisahan antara agama dan negara secara ramah, yakni model pemisahan antara agama dan institusi politik secara legal tetapi satu yang lain tidak saling bermusuhan. Ketiga, pemisahan antara agama dan negara secara tidak ramah, yaitu pemisahan secara legal dan dalam posisi yang antagonistik. Keempat, Erastianisme yang merupakan model dimana gereja berada dibawah otoritas negara.

Lanjut Baca »

Jakarta, 26 Januari 2010 16:18
Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali mengaku telah minta kepada Mahkamah Konstitusi (MK) untuk menunda sidang gugatan kekebasan beragama dari satu kelompok, yang semula dijadwalkan pada Januari diundur hingga pertengahan Februari 2010. Lanjut Baca »

Oleh: Tedi Kholiludin

Istilah teknopolitan yang saya gunakan dalam judul di atas, merujuk pada apa yang oleh Harvey Cox disebut sebagai kata lain dari “The Secular City”. Dalam pandangan Cox sebuah negara atau kota yang bercorak sekuler atau Technopolis paling tidak memiliki dua corak. Pertama, pragmatisme. Dunia, dalam kacamata pragmatisme dilihat bukan sebagai suatu kesatuan metafisik, tetapi sebagai rangkaian masalah dan proyek. Kedua, profanitas. Dengan mengatakan profan, Cox tidak bermaksud untuk memberi kesan bahwa manusia sekuler adalah sacrilegious, tetapi ia adalah seorang yang unreligious. (Cox:1967, 52)
Lanjut Baca »

Oleh: Tedi Kholiludin

Dalam spektrum pemikiran, ide yang digelontorkan almarhum Abdurrahman Wahid atau Gus Dur menjadi injeksi positif bagi perkembangan pemikiran keislaman anak muda, terutama di kalangan Nahdliyyin.

Gus Dur telah menancapkan fondasi pemikiran untuk menghargai keragaman etnis, agama dan bahasa di Indonesia. Bersama Nurcholis Madjid (Cak Nur), Gus Dur telah menanamkan pemikiran yang begitu luas berpengaruh, terutama di kalangan intelektual muda yang kemudian menjadi anak didiknya di Nahdlatul Ulama.

Yang membedakan dari Cak Nur, Gus Dur membangun pemikiran keagamaannya dengan menyandarkan diri pada tradisi. Sementara Cak Nur mengawali pembaharuan pemikiran keagamaan dengan lebih banyak merujuk pada modernitas sebagai kerangka kerjanya. Para pemerhati pemikiran keagamaan di Indonesia kemudian mencoba menelusuri kerangka epistemologi apa yang sesungguhnya tengah diusung oleh Gus Dur. Lanjut Baca »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.